Finally Sourdough bread ku tiba dengan selamat di kampus tercintah. Baunya roti banget, pengen jadi tukang roti. Mau aku makan besok pas perjalanan pulang.
Haii, saat aku menulis ini, aku sedang bersedih. Bersedih karena kenyataan jauh dari kata nyaman untuk hati dan pikiranku. Aku banyak mencari cara untuk membangun kesadaran, untuk memikirkan segalanya dengan objektif. Tapi aku lupa kalau langkah awalnya adalah dengan menerima. Banyak hal terjadi, dipendam sendiri, lama-lama menumpuk menjadi bara. Sedikit saja disulut, api itu menyala. Aku harus bagaimana Ya Tuhan. perasaan ini sungguh menyiksa.
Teman-teman yang berbahagaia... Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Karena manusia itu memiliki hawa nafsu yang cenderung mengarah pada kebahagaiaan. Nggak heran kalau dalam perjalanannya manusia bisa lalai akan tujuan hidup yang sebenarnya. Manusia akan ingat bila ada suatu hal yang membuatnya sadar. barangkali manusia itu sendiri juga menjemput kesadarannya lewat realitas yang dijumpainya sehari-hari Sore itu hujan turun dengan lebat. Manusia-manusia di bumi bersembunyi namun mengagumi dan mensyukuri nikmat Ilahi itu. Termasuk aku dan temanku. Kami menghangatkan diri dengan membuat sesuatu yang ketika dikonsumsi membuat kami melambung jauh menunaikan rindu pada rumah. Bukan segelas teh atau pisang goreng. Tapi, ubi jalar yang dikukus. Makanan favoritnya kakek aku kalau bosan makan nasi. Yupp, kami mengukus ubi manohara, karena kalau ubi cilembu kami tidak punya. Namanya perempuan, paling tidak suka kalau haru...
Hal yang paling teringat dan terngiang-ngiang sekarnaga dalah gmn aku menyelesaiakan segala hal yang telah aku mulai. Cukum mudha dan sulit di saat yang bersamaan. Namun adanya kesulitan itu membutaku sadar bahwa aku sudah berada di jalan yang benar. bismillah, jadi editor karya tulis sendiri.
Komentar
Posting Komentar