Tafakur Alam Pengurus Yayasan Al-Fulan
(Kamis/ 12/ 25) Yayasan Al-Fulan melaksanakan program tafakur alam di taman kota Suryakarta sebagai upaya peningkatan spiritual SDM.
Ketua Yayasan
Al-Fulan, Dipta Ardiansyah, membuat program tafakur alam dengan kegiatan
berjalan-jalan di Taman Kota Suryakarta. Dipta mengatakan, adanya program ini supaya pengurus bisa
mengingkatkan spiritualitas dalam diri individu dengan mengamati taman kota dan
sekitarnya. Pemilihan kegiatan dengan berjalan-jalan juga bukan hal yang
spontan saja, melainkan juga untuk memberikan bekasan rasa tertentu, sekaligus
mengharuskan pengurus untuk berolahraga dan menghayati kebesaran Tuhan. Hal ini
juga dilatarbelakangi dari kondisi psikologis pengurus yang overwhelm dalam
melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor, menimbulkan kejenuhan dan kebosanan
yang tinggi. Sehingga dengan jalan-jalan di taman, diharapkan dapat membantu
pengurus untuk stress release, dengan melihat kesegaran alam secara langsung.
Sebanyak
20 orang pengurus nantinya mendatangi taman-taman yang ada di Kota Suryakarta
dengan sendiri-sendiri. Hal ini memungkinkan untuk membuat pengurus memikirkan permasalahan
apa yang sedang dihadapi untuk coba diselesaikan dengan dirinya sendiri. Sendiri
yang dimaksudkan adalah tanpa adanya intervensi dari pihak manapun dalam
prosesnya menghayai alam yang ada di taman. Oleh karena itu pengurus diberikan
kebebasan mendatangi taman manapun, asalkan dilakukan sendirian. Randi (Departemen
TPQ, Yayasan Al-Fulan) mengatakan, iya, saya merasa lebih tenang dan bisa
berpikir jernih Ketika melihat suasana yang nyaman seperti di Taman Harmoni ini.
Pengurus
yang jalan-jalan sendirian di taman untuk menjalankan program peningkatan
spiritualitas, tidak hanya sekedar berjalan-jalan dan berfoto-foto saja. Namun,
mereka juga mengamati realitas alam yang mereka lihat, raba dan dengar dengan
inderanya. Seperti yang dilakukan oleh Iqomah (23, Departemen humas) yang
sedang melakukan pengamatan mengenai bentuk daun yang jatuh sembari duduk di
rumput-rumput taman yang hijau. Iqomah, mengamati realitas alam, dimana daun
yang jatuh dari pohon tidak pernah membenci angin, melainkan daun tersebut
menerima dengan lapang tanpa banyak bertanya dan protes. memang sudah
waktunya gugur katanya. Dalam pengamatannya, Iqomah juga memotret beberapa
daun yang jatuh dan mencatatnya dalam buku.
Dalam prosesnya mengamati, Iqomah mendapati suatu pola yang sama dalam daun yang jatuh. Polanya muai dari kondisi daun tersebut, jika memang sudah menguning atau memang terdapat kerapuhan antara penyambung daun dan ranting yang menauinginya, atau terpaksa gugur karena terbawa angin yang kencang. Selain itu Iqomah juga menemukan adanya pola yang sama dari daun yang diamati, bentuknya menjalar indah seperti rumus akar dalam matematika. Selain itu daun yang masih berada di pohon meskipun ada yang jatuh, juga ada yang bertunas. Iqomah berpikir menggunakan nalar rasionalnya, bahwa ternyata alam semesta yang indah dan teratur ini tidak mungkin tidak ada penciptanya.
Kemudian
ia mencoba menghayati kebesaran Allah melalui ciptaannya. Bagaimana bisa ada
pohon yang tumbuh menjulang sebesar ini? Tentunya pertumbuhan itu didasari dari
tunas yang kecil-kecil, dibantu dengan akar yang mencari air di bawah tanah,
hingga proses batang menyimpan air yang nanti disalurkan pada daun. Kemudian daun
bertugas untuk berfotosintesis melalui klorofilnya saat bersentuhan dengan Cahaya
matahari. Dengan begitu oksigen, udara yang manusia hirup bisa bersih dan
terhindar dari populasi yang disebabkan oleh manusia sendiri. Membayangkan bila
pohon dan hutan yang ada di seluruh muka bumi nanti ditebang habis-habisan
tanpa menyisakan ruang, bagaimana nantinya Nasib dari generasi penerus? Kemudian
jika hal itu terjadi maka alam akan rusak dan akan merusak serta berdampak pada
manusia itu sendiri. Banjir, tanah longsor, pencemaran udara, pencemaran air
dll yang bisa merugikan manusia. Maka manusia akan kesulitan untuk hidup dan
menghirup udara segar secara bebas. Orang sakit yang menggunakan oksigen saja
perlu biaya yang besar, maka setidaknya kita sebagai manusia memiliki kewajiban
untuk menjaga alam, supaya oksigen, udara yang dihirup bisa diakses secara
gratis dan tak terbatas.
Sepulang
dari perjalanan penghayatan tersebut, Iqomah membuat tulisan tentang rasa syukurnya
atas nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Mulai dari nikmat Kesehatan,
diamana dia maih diberikan kesempatan atas izin-Nya untuk melihat dan merasakan
sendiri keindahan alam yang telah Allah ciptakan. Nikmat akal untuk bisa
memikirkan bagaimana kebenaran seharusnya bisa hidup diantara kejahatan yang
makin hari makin menggerus peradaban manusia. Nikmat kemerdekaan, Dimana seorang
individu tidka lagi takut pada intervensi negara lain yang bisa memberikan
ancaman pada hak hidupnya. Nikmat berorganisasi, Dimana dirinya memiliki
lingkungan yang solid yang saling menguatkan dan memberikan ruang untuk terus
berkembang serta menjaganya dari lingkungan yang menyesatkan. Iqomah juga
bersyukur atas nikmat udara segar, yang mungkin tidak dimiliki oleh kota industri
yang banyak asapnya, nikmat air bersih yang tidak dimiliki oleh saudara-saudara
selainnya yang sednag terisolir. Dan masih banyak lagi yang ditulis oleh Iqomah
dalam jurnal bersyukurnya.

Komentar
Posting Komentar